Sabtu, 21 Mei 2011

BANI ABBASIYAH

BANI ABBASIYAH


A. Pembangunan Daulah Bani Abbasiyah
            Daulah Bani Abbasiyah diambil nama Al-abbas bin Abdul Muthalib,Paman nabi Muhammad SAW. Pendirinya ialah Abdullah bin Abbas,atau  lebih dikenal dengan sebutan Abdul abbas As-saffah. Daulah bani Abbasiyah berdiri antara tahun 132-656/750-1258 M. Lima setengah abad lamanya keluarga Abbasuyah menduduki singgasana khalifah Islamiah. Pusat pemerintahan dikota bagdad.
            Tokoh pendiri daulah bani Abbasiyah adalah; Abdullah Abbas As-saffah,aaAbu Jafar Al-mansur, Ibrahim Al-Imam danabu muslim Al-kursani. Bani Abbasiyah mempunyai kahalifah sebanyak 37 orang. Dari masa pemerintahan Abdul abbas As-saffah sampai khalifah Al-watsiq Billah agama Islam mencapai zaman keemasan (132-232/749-879). Dan pada masa khalifah Al-mutawakkil sampai dengan Al-mu’tasim. Islam mengalami masa kemunduran dan keruntuhan akibat serangan bangsa mangol tartar pimpinan hulakho khan pada tahun 656/1258 M.[1]

B. Peta daerah perkembangan Islam pada masa bani Abbasiyah
            Pemerintahan daulah Abbasiyah merupakan kelanjutan dari pemerintshan daulah bani umayyah yang telah hancur di damaskus. Meskipun demikian, tempat perbedaan antara kekuasaan bani Abbasiyah dengan kekuasaan dinasti bani Abbasiyah dengan kekuasaan bani umayyyah diantaranya adalah:
  1. Dinasti umayyah sangat bersifat Arab oriented, artinya dalam segala hal para pejabatnya berasal dari keturunan Arab murni, begitupula corak peradaban yang dihasilkan pada dinasti ini.
  2. Dinasti Abbasiyah, disamping bersifat Arab murni,juga sedikit banyak telahterpengaruhdengancorakfikirandanperadabanPersia,Romawi,Timur,Mesie, an sebagainya.
Pada pemerintahan dinasti Abbasiyah, luas wilayah kekuasan Islam semakin bertambah, meliputi wilayah yang telah dikuasai bani umayyah,antaralain Hijaz, yaman utara dan selatan, Oman. Kuwait, Irak, Iran(Persia),yordania,Plestina,libanon.Mesir,Tunasia,Aljazair,Maroko,Spanyol, Afganistan dan fakistan, dan meluas sampai keturki, cina dan juga India.[2]

C. Benbtuk-bentuk peradaban Islam pada masa daulah Abbasiyah
 Masa pemerintahan Dinastu abbasiyah merupakan masa kejayaan Islam dalam berbagai bidang, khusdusnya dibidang ilmu pemngetahuan dan kebudayaan. Pada zaman ini. Umat Islam telah banyak melakukan kajian krtitis tarhadap ilmu pengetahuan yaitu melalui pemerintahan karya-karya terdahu danjuga melakukan riset tersendiri yang dilakukan oleh para ahli. Kebangkitan ilmiyah pada zaman ini tebagi dalam tiga lapangan, yaitu; Kegiatan menyusun buku-buku ilmiyah,mengatur ilmu-ilmu Islam dan penterjemahan dari bahasa asing.[3]
Telah sampai kemenangan dimedia perang, tokoh-tokoh tentara membukakan jalan kepada orang-orang pemerintahan,keuangan,undang-undang dan berbagai ilmu pengetahuan untuk bergiat dilapangan masing-masing. Dengan demikian munculah pada zaman itu sekelompok penyair handaklan,filosof-afilosof,ahli sejarah,ahli ilmu hisab,tokoh-tokoh agama dan pujangga-pujangga yang memperkaya perbandaharaan bangsa Arab.[4]
Adapun bentuk-bentuk peradaban Islam pada masa daulah bani Abbasiyah adalah sebagai berikut;
1. Kota-kota pusat peradaban
Diantara kota pusat peradaban pada masa dinasti Abbasiyah adalah bagdad dan samara. Bagdad merupakan ibu kota Negara kerajaan Abbasiyah yang didirikan kahalifah Abu ja’far Al-mansur (754-775). Pada tahun 762 M.
Sejak awal berdirinya pusat peradaban dan kebangkitan ilmu pengetahuan. Kekota inilah para ahli ilmui pengetahuan dating beramai-ramai untuk belajar. Sedangkan kota samara terletak disebelah timur sungai tigris,yang beranjak + 60 km dari kota bagdad. Didalamnya tedapat 17 istana mungil yang menjadi contoh seni bangunan Islam dikota-kota lain.[5]
2.Bidang pemerintahan
Pada masa Abbasiyah I (750-847 M), kekuasaan khalifah sebagai kepada  Negara sangat terasa sekali dan benar seorang khalifah adalah penguasa tertinggi dan mengatur segala urusan Negara. Sedangkan masa Abbasiyah II (847-966 M) kekuasaan khalifah sedikit menurun, sebab wazir(perdana mentri) telah mulai memiliki andil dalam urusan Negara. Dan pada masa Abbasiyah III (946-1055 M)  dan IV (1055-1258), khalifah menjadi boneka saaja,karena para gubernur didaerah-daerah telah menampakkan diri mereka sebagai penguasa kecil yang berkuasa penuh. Dengan damikian pemerintah pusat tidak ada apa-apanya lagi.
Dalam pembagian wilayah (provinsi), pemerintahan bani Abbasiyah menamakan dangan imarat, gubernurnya bergelar amir.hakim. Imarat saat itu ada tiga macam,yaitu; Imarat Al-istikhfa,Al-amarah Alkhasanah dan imarat silau. Kepada wilayah atau imarat ini diberi hak-hak otonomo terbatas,sedangkan desa atau al-gura dengan kepala dasanya as-syaikh al-qoryah diberi otonomi penuh.Selain hal tersebut diatas, dinasti Abbasiyah telah membentuk angkatan perang yang kuat dibawah angkatan panglima, sehingga khalifah tidak turun langsung daklam menangani tentara. Khalifah juga membentuk baitul mal atau departemen keuangan untuk mengatur keuangan Negara khususnya. Disamping itu khalifah membentuk badan peradilan,guna membantu khalifah dalam urusan hukum.
3.Bangunan tempat pendidikan dan pribadatan
Disamping itu,terdapat juga bangunan berupa tampat-tanpat pribadatan seperti mesjid. Mesjid saat ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelaksanaan ibadah shalat,tetapi juga sebagai tempat pendidikan tingkat tertinggi dan takhassus. Diantara masjid-masjid tersebut adalah mesjid cordova, Ibnu taulin,Al-Azhar dan lain sebagainya.[6]
4.Bidang ilmu pengetahuan
Ilmu pengetahuan pada masa daulah bani abbasiyah terdiri dari ilmu naqli dan ilmu aqli. Ilmu aqli terdiri dari ilmu tafsir.Ilmu hadits,ilmu fiqih,ilmu kalam.ilmu tasawwuf dan ilmu bahasa. Adapun ilmu naqli seperti: ilmu kedokteran, ilmu perbintangan , ilmu kimia, ilmu pasti, logika,filsafat dan geografi.
5.Kemunduran daulah bani abbasiyah
Kehancuran dinasti abbasiyah ini tidak terjadi dengan cara spontanitas, melainkan melalui proses yang panjang yang diawali bebagaipemberontakan dari kelompok yang tidak senang terhadap kepemimpinan khalifah abbasiyah. Disamping itu juga,kelemahan kedudukan kekhalifahan dinasti abbasiyah dibagdad, disebabkan luasnya wilayah kekuasaan yang kurang terkendali, sehingga menimbulkan disentegrasi wilayah.           
Diantara kelemahan yang menyebabkan kemunduran dinasti abbasiyah adalah sebagai berikut:
1.      mayoritas khalifah abbasiyah priode akhir lebih meningkatkan urusan peribadinya dan cendrung hidup mewah.
2.      Liasnya wilayah kekuasan abbasiyah semantara komunikasi pusat dan daerah sulit dilakukan.
3.      Ketergantungan kepada tentara bayaran.
4.      Semakin kuatnya pengaruh keturunan turki dan Persia, yang menimbulkan kecemburuan bagiu bangsa Arab murni.
5.      Pemusuhan antara kelompok dan agama.
6.      Perang salib yang berlanhsung beberapa gelombang dan menelan banyak korban.
7.      penyerbuan tentara mongol dibawah pimpinan panglima Hulagu khan yang menghancur leburkan kota bagdad. [7]

D. Nama-nama khalifah pemerintahan Abbasiyah
            Daftar nama dan tanggal permulaan pemerintahan mereka:
1.      Abu-Abbas as-saffah 132 H.
2.      Abu ja’far al-mansur 136 H.
3.      Abu Abdullah Muhammad al-mahdi bin al-mansur 158 H.
4.      Abu musa al-Hadi 169 H.
5.      Abu ja’far harun al-Rasyid 170 H.
6.      Abu nusa Muhammad al-amin 193 H.
7.      abu ja’far Abdullah al-ma’mun198 H.
8.      Abu Ishak Muhammad al-mu’tashim 218 H.
9.      Abu ja’far haru al-watsiq 227 H.
10. Abu fadhl ja;far al- mutawakkil 232 H.
11. abu ja;far Muhammad al-muntasir 247 H.
12. Abu Abbas Ahmad al-mutsain 248 H.
13. Abu Abdullah Muhammad al-mu’taz 252 H.
14. abu ishak Muhammad al-muhtadi 255 H.
15. Abu Abbas Muhammad al-mu’tamid 256 H.
16. Abu Abbas ahmad al-mu’tadhid 279 H.
17. Abu Muhammad Ali al-mukhtafi 289 H.
18. abdul fadhl ja’far al-muqtadir 295 H.
19. Abu mansur Muhammad al-Qahir H.
20. Abul Abbas Ahmad rahdi 322 H.
21. Abu Ihak ibrahim al-muttaqi 329 H.
22. Abul Qashim Abdullah al-mustakfi 333 H.
23. Abul Qashim al-mufadhdhah al-muthi’ 334 H.
24. Abu fadhl Abdul kari at-Thai’ 362H.
25. Abul Abbas ahmad Al-Qadri 381 H.
26. Abu ja;far Abdullah al-Qa’im 422H.
27. Abul Qashi Abdullah al-muqtadi 467 H.
28. Abul Abbas Ahmad al-muztazhhir 487 H.
29. Abu mansur al-fadhl al-mustarsyid 512 H.
30. Abu ja’far al-mansur as-Rasyid 529 H.
31. Abu Abdullah Muhammad al-mugtafi 530 H.
32. Abul Muzhaffar al-mustanjid  555 H.
33. Abu Muhammad al-Hasan al-mustadhi’ 566 H.
34. Abul Abbas Ahamad an-Nazhir 575 H.
35. Abul Abbas Muhammad az-Zhair 622H.
36. Abu ja’far al-mansur al-mustanshir 623 H.
37. Abu Ahmad Abdullah al-musta’shim 640-656 H.[8]
Kesimpulan

            Dinamakan khalifah bani Abbasiyah karena pendiri dan penguasanya adalah keturunan al-Abbas paman nabi Muhammad SAW. Dinasti ini didirikan oleh Abdullah al-saffah Ibn Muhammad Ibn Ali Ibn Abdullah Ibn Abbas mencapai masa keemasannya. Secara politis, khalifah betul-betul tokoh yang kuat merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekali gus. Disisi lain, kemakmuran masyarakat tertinggi. Priode ini juga berhasil menyiapkan kan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan Islam. Namum setelah priode ini berakhir pemerintahan Abbasiyah mulai menurun dalam bidang politik meskipunfilsafat dan ilmu-ilmu pengetahuan terus berkembang.
            Pokok perkembangan dinasti Abbasiyah tidak seluruh berawal dari kreatifitas penguuasa bani Abbasiyah sendiri. Sebagian diantaranyaa sudah dimulai sejak awal kebangkitan Islam. Dalam bidang pendidikan misalnya diawal Islam, lembaga pendidikan sudah mulai berkembang, Namun lembaga-lembaga ini kemudian berkembang pada masa pemerintahan Abbasiyah dengan berdirinya perpustakaan dan akademi.











Daftar Pustaka

A.Syalabi, Sejarah Kebudayaan Islam 3, Jakarta: PT. Pustaka Al-Husna Baru,2003.
Chalil Umam, Sejarah Kebudayaan Islam, Semarang: PT. Karya Toha Putra,2003.
http//hizbuz-tahrir,co.id, Senin,Jam:02.00,14 Desember 2009.
http//www.free.bloq-site,com.Rabu,Jam:10.00,16 Desember 2009
Murodi, Sejarah Kebudayaan Islam MA, Semarang: PT. Karya Toha Putra,2003.
Syalabi, Sejarah Kebudayaan Islam 3, Jakarta:PT. Al-Husna Zikra,2000.












[1]Chalil Umam, Sejarah Kebudayaan Islam, (Semarang: PT. Karaya Toha Putra,2003), hlm.57.
[2]Murodi, Sejarah Kebudayaan Islam MA, (Semarang: PT. Karaya Toha Putra,2003), hlm.51.
[3]Ibid., hlm.58.
[4]Syalabi, Sejarah kebudayaan Islam 3, (Jakarta: PT. Al-Husna Zikra,2000), hlm.186.
[5]Murodi, Op.cit., hlm.58.
[6]http//hizbuz-tahrir,co.id. Senin, Jam:02.00,14 Desember 2009.
[7]http//www.free-glog-site.com. Rabu,Jam:10.00,16 Desenber 2009.
[8]A.Syalabi, Sejarah Kebudayaan Islam 3, (Jakarta: Pt. Pustaka Al-Husna Baru,2003), hlm.20.

STRATEGI PEMBELAJARAN FIQIH MI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
            Strategi pembelajaran yang dipilih oleh guru selayaknya didasari pada berbagai pertimbangan sesuai dengan situasi, kondisi dan lingkungan yang akan dihadapinya. Guru diharapkan mengembangkan atau mencari strategi lain yang dipandang lebih tepat. Sebab, pada dasarnya tidak ada strategi yang paling ideal. Masing-masing strategi mempunyai kelebihan dan kekurangan sendiri. hal ini sangat bergantung pada tujuan yang hendak dicapai,                                                                                                  Mengingat belajar adalah proses bagi siswa dalam membangun gagasan atau pemahaman sendiri, maka kegiatan belajar mengajar hendaknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan hal itu secara lancar dan termotivasi. Suasana belajar yang diciptakan guru harus melibatkan siswa secara aktif, misalnya mengamati, bertanya dan mempertanyakan, menjelaskan, dan sebagainya. Belajar aktif tidak dapat terjadi tanpa adanya partisipasi peserta didik. Para siswa hendaknya lebih dikondisikan berada dalam suatu bentuk pencarian daripada sebuah bentuk reaktif. Yakni, mereka mencari jawaban terhadap pertanyaan baik yang dibuat oleh guru maupun yang ditentukan oleh mereka sendiri. Semua ini dapat terjadi ketika siswa diatur sedemikian rupa sehingga berbagai tugas dan kegiatan yang dilaksanakan sangat mendorong mereka untuk berpikir, bekerja,danmerasa.








B. Rumusan Masalah
1.   Pengertian strategi pembelajaran
2.   Komponen strategi pembelajaran
3.  Jenis-jenis strategi pembelajaran
C. Tujuan penulisan
1.   Untuk mengetahui strategi pembelajaran fiqih MI
2. Untuk menambah wawasan mahasiswa tentang strategi  pembelajaran 
3.  Memenuhi tugas mata kuliah dari dosen pengampu


BAB II
PEMBAHASAN
STRATEGI PEMBELAJARAN FIQIH MI

A. Pengertian strategi pembelajaran
                  Secara umum strategi mempunyai pengertian sebagai suatu garis besar haluan dalam bertindak untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar, srategi biasa diartikan sebagai pola umum kegiatan guru-murid dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan
                  Pada mulanya istilah strategi digunakan dalam dunia meliter dan diartikan sebagai cara penggunaan suatu peperangan. Seseorang yang berperang dalam mengatur strategi, untuk memenangkan peperangan sebelum melakukan suatu tindakan, ia akan menimbang bagaimana kekuatan pasukan-pasukan  yang dimilikinya baik dilihat dari kuantitas maupun kualiasnya.
                  Dari ilistrasi tersebut dapt disimpulkan, strategi digunakan untuk memperoleh kesuksesan atau keberhasilan dalam mencapai tujuan. Dalam dunia pendidikan, strategi diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertantu.
      Dibawah ini akan diuraikan beberapa definisi tentang strstegi pembelajaran menurut para ahli:

Kemp (1995)
Menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harusdikerjakan guru dan peserta didik agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efesien.

Kozma dalam Gafur (1989)
Secara umum menjelaskan bahwa strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap kegiatan yang dipilih, yaitu yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik menuju tercapainya tujuan pembelajaran tertentu.
Gerlach dan Ely (1980)

Menjelaskan bahwa strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pembelajaran dalam lingkungan pembelajaran tertentu. Selanjutnya dijabarkan oleh mereka bahwa strategi pembelajaran dimaksud meliputi sifat, lingkup dan urutan .kegiatan pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik.
            Ada dua hal yang patut dicermati dari pengertian-pengertian diatas
  1. Strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya/kekuatan dalam pembelajaran.
  2. Strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Artinya arah dari semua keputusan dan penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan.

B. komponen Strategi Pembelajaran
1. Kegiatan Pembelajaran Pendahuluan
     
Kegiatan pendahuluan sebagai bagian dari suatu system
pembelajaran secara keseluruhan memegang peranan penting.

2. Penyampaian Informasi
                  Penyampaian informasi seringkali dianggap sebagai suatu
kegiatan paling penting dalam proses pembelajaran, padahal bagian ini
hanya merupakan salah satu komponen dari strategi pembelajaran.
Artinya tanpa adanya kegiatan pendahuluan yang menarik atau dapat
Memotivasi peserta didik dalam belajar maka kegiatan penyampaian
informasi ini menjadi tidak berarti.

3. Partisipasi Peserta Didik
                  Berdasarkan prinsip student centered maka peserta didik  merupakan pusat dari suatu kegiatan belajar.

      Terdapat beberapa hal penting yang berhubungan dengan
partisipasi peserta didik, yaitu:
a. Latihan dan praktek
Seharusnya dilakukan setelah peserta didik diberi  informasi
Tentang suatu pengetahuan, sikap atau keterampiian tertentu.
b. Umpan Balik
Segera setelah peserta didik menunjukkan perilaku tertentu
Sebagai hasil belajarnya, maka , guru memberikan umpan balik (feedback)
Terhadap hasil belajar tersebut. Melalui umpan balik yang diberikan oleh
guru, peserta didik akan segera mengetahui apakah jawaban yang
merupakan kegiatan yang telah mereka lakukan itu benar/atau salah,
tepat/tidak tepat atau ada sesuatu yang perlu diperbaiki.

4. Tes
Serangkaian tes umum yang digunakan oleh guru untuk mengetahui :
(a) apakah tujan pembelajaran khusus telah tercapai atau belum, dan
(b) apakah pengetahuan, sikap dan keterampilan telah benar-benar dimiliki oleh peserta didik atau belum.
5. Kegiatan Lanjutan
Kegiatan yang dikenal dengan istilah follow up dari suatu hasil kegiatan yang telah dilakukan seringkali tidak dilaksanakan dengan baik oleh guru. Dalam kenyataannya, setiap kali setelah tes dilakukan selalu saja terdapat peserta didik yang berhasil dengan bagus atau di atas rata-rata :
a. hanya menguasai sebagian atau cenderung di rata-rata tingkat penguasaan yang diharapkan dapat dicapai
b. Peserta didik seharusnya menerima tindak lanjut yang berbeda sebagai konsekuensi dari hasil belajar yang bervariasi tersebut.
                  Kriteria pemelihan strategi pembelajaran yang dapat digunakan dalam memilih strategi pembelajaran, yaitu:
  1. Berorientasi pada tujuan pembelajaran
  2. Pilih teknik pembelajaran sesuai dengan keterampilan yang diharapkan dapat dimiliki saat bekerja nanti (dihubungkan dengan dunia kerja).
  3. Gunakan media pembelajaran yang sebanyak mungkin memberikan rangsangan pada indera peserta didik.
Pemilihan strategi pembelajaran yang didasari pada prinsip efisiensi, efektivftas, dan keterlibatan peserta didik.
1. Efisiensi
Penggunaan strategi pembelajaran yang tepat dan pemilihan metode yang mendukung tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.

2. Efektivitas
Pada dasarnya efektivitas ditujukan untuk menjawab pertanyaan seberapajauh tujuan pembelajaran telah dapat dicapai oleh peserta didik. Perlu diingat bahwa strategi yang paling efisien sekalipun tidak otomatis menjadi strategi yang efektif.
3.  Keterlibatan Peserta Didik
Pada dasamya keteriibatan peserta didik dalam proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh tantangan yang dapat membangkitkan motivasinya dalam pembelajaran. Strategi pembelajaran yang besifat inkuiri pada umumnya dapat memberikan rangsangan belajar yang lebih intensif dibandingkan dengan strategi pembelajaran yang hanya bersifat ekspositori.

C. Jenis-Jenis Strategi Pembelajaran
                  Berbagai jenis strategi pembelajaran dapat dikelompokkan berdasarkan berbagai pertimbangan:
1. Atas dasar pertimbangan proses pengelolaan pean
      a. Strategi deduktif. Dengan strategi deduktif materi atau bahan pelajaran diolah dari mulai yang umum, generalisasi atau rumusan, ke yang bersifat khusus atau bagian-bagian.
      b. Strategi Induktif. Dengan strategi induktif materi atau bahan pelajaran diolah mulai dari yang khusus ( sifat,cirri atau atribut) ke yang unum,generalisasi atau rumusan.
2. Atas dasar pertimbangan pihak pengelola pesan
      a. Strategi Eksporitorik. Dengan strategi Eksporitorik bahan atau matari pelajaran diolah oleh guru. Siswa  tinggal “terima jadi” dari guru.
      b. Strategi Heuristik. Dengan strategi Heuristik bahan atau materipelajaran diolah oleh siswa. Siswa yang aktif mencari dan mengelola bahan pelajaran. Guru sebagai fasilitator memberi dorongan,arahan, dan bimbingan.
3. Atas pertimbangan pengaturan guru
      a.Strategi seorang guru. Seorang guru  mengajar kepada sejumlah siswa.
      b. Strategi pembelajaran beregu (Team Teaching). Dengan pengajaran beregu, dua orang atau lebih guru mengajar sejumlah siswa.
4. Atas dasar pertimbangan sejumlah siswa
      a. Strategi klasikal
      b. Strategi kelompok kecil
      c. Strategi individual
5. Atas dasar pertimbangan interaksi guru dengan siswa
      a. Strategi tatap muka
      b. Strategi pengajaran melalui media







BAB III
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang akan dipilih dan digunakan oleh seorang pengajar untuk menyampaikan materi pelajaran, sehingga akan memudahkan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat dikuasainya diakhir kegiatan belajar.
 Sebagai kesimpulan, diyakini bahwa berbagai strategi pembelajaran yang digunakan oleh pengajar pada dasarnya diarahkan agar terjadi proses belajar mendiri dalam diri siswa. Namun perlu diinga bahwapendekatang yang baik belum tentu menghasilkan pembelajaran yangnbaik pula.karena itu factor pengajar sebagai manager dari suau kegiatan pembelajaran di kelas sangat menentukan keberhasilan proses pembelajaran tertentu.

B Saran
               Dalam makalah ini tentunya akan ada kekurangan-kekurangan argumentasi atau mugkin terdapat kekeliruan dalam penulisan atau susunan kata-kata, oleh karena itu kritik dan saran kami butuhkan guna perbaikan berikutnya. Untuk memperoleh pengetahuan yang lebih mendalam, kami sarankan juga untuk membaca referensi-referensi lain yang terkait dengan pengaruh kebudayaan dan pendidikan  terhadap jiwa keagamaan.







KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT. karena atas rahmat dan hidayahnya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas mata kuliah pembelajaran fiqih, yang dibimbing oleh Baharudin  R. S,pdi, MA. dengan judul Strategi pembelajarn fiqih Mi sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Shalawat serta salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada Nabi kita, yaitu Nabi Muhammad saw. yang telah membawa kita dari alam kebodohan menuju alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti saat sekaran ini.
Kami menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Maka dari itu kami mohon saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.

       Penulis

Muhammad Aris






DAFTAR PUSTAKA

Abu Ahmadi dkk,  SBM Strategi belajar mengajar, Bandung: Pustaka Setia,1997.
Junaidi dkk, Strategi Pembelajaran, Surabaya: Lapis-PGMI,2008.
Udin S. Winataputra, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Univarsitas Terbuka,2002.






















DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..........................................................................                i
DAFTAR ISI.......................................................................................                  ii
BAB I        PENDAHULUAN.......................................................................       1
A.     Latar Balakang .............................................................              1
B.     Rumusan Masalah........................................................              2
C.    Tujuan Penulisan...........................................................              2
BAB II       PEMBAHASAN...................................................................             3
A.     Pengertian strategi pembelajaran ................................           3
B.     Komponen strategi pembelajaran ................................           4
C.    Jenis-Jenis strategi pembelajaran................................            6
BAB III     PENUTUP..........................................................................                 8   
A.     Kesimpulan...................................................................               8
B.  Saran.............................................................................               8

DAFTAR PUSTAKA





Minggu, 15 Mei 2011

IMPLIKASI PENDIDIKAN AGAMA DALAM PERKEMBANGAN RASA AGAMA PADA USIA ANAK DAN REMAJA


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Psikologi secara umum mempelajari gejala-gejala kejiwaan manusia yang berkaitan dengan pikiran (cognisi), perasaan (emotion), dan kehendak (conasi). Gejala tersebut secara umum memiliki ciri-ciri yang hampir sama pada diri manusia dewasa, normal dan beradab. Dengan demikian ketiga gejala pokok tersebut dapat diamati melalui sikap dan perilaku manusia. Namun terkadang ada diantara pernyataan dalam aktivitas yang tampak itu merupakan gejala campuran, sehinga para ahli psiklogi menambahnya hingga menjadi empat gejala jiwa utama yang dipelajari psikologi, yaitu pikiran, kehendak dan gejala campuran. Adapun yang termasuk gejala campuran ini seperti intelegensi,  kelelahan ataupun sugesti.[1]
Religiositas berkembang sejak usia dini melalui proses perpaduan antara potensi bawaan keagamaan dengan pengaruh yang datang dari luar diri manusia. Dalam proses perkembangan tersebut akan terbentuk macam, sifat, serta kualitas religiositas yang akan terekspresikan pada perilaku kehidupam sehari-hari. Proses perkembangan religiositas melewati tiga fase utama, yakni fase anak, remaja dan dewasa. Masing-masing fase perkembangan memiliki kekhasan dalam sifat serta perannya terhadap keseluruhan perkembangan religiositas.[2]
Dalam makalah ini akan membahas tentang bagaimana religiusitas pada tahap anak-anak hingga remaja.






BAB II
PEMBAHASAN

IMPLIKASI PENDIDIKAN AGAMA DALAM PERKEMBANGAN RASA AGAMA PADA USIA ANAK DAN REMAJA

A.     Pengertian Pendidikan Agama
Dari sudut padang manusia, pendidikan ialah proses sosialisasi, yakni memasyarakatkan nilai-nilai, ilmu pengetahuan dan keterampilan dalam kehidupan. Emile Durhaim dalam karyanya education and sociology (1956) berpendapat bahwa pendidikan merupakan kelanggengan kehidupan manusia itu sendiri, yaitu mampu hidup konsisten mengatasi ancaman dan tantangan masa depan.[3] Banyak para filsafat pendidikan mengartikan “pendidikan” antara lain:
1.      Driyar Karya
Mengatakan bahwa pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia muda.
2.      Crow and crow
Menyebut pendidikan adalah proses yang berisi berbagai macam kegiatan yang cocok bagi individu untuk kehidupan sosialnya dan membantu meneruskan adat dan budaya serta kelembagaan sosial dan generasi ke generasi.
3.      Ki Hajar Dewantara
Dalam kongres Taman Siswa yang pertama pada tahun 1930, menyebutkan pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek), dan tubuh anak; dalam Taman Siswa tidak boleh pisah-pisahkan bagian-bagian itu agar dapat memajukan kesempurnaan hidup, kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik selaras dengan dunianya.
4.      John Dewey
Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia.

5.      Herman H. Horne
Pendidikan dipandang sebagai suatu proses penyesuaian diri manusia sebagai timbal balik dengan alam sekitar dengan sesama manusia, dan dengan tabiat dan kosmos.[4]
Ada beberapa pendapat mengenai makna “Agama” antara lain:
1.      Prof KHM. Taib Thahir Abdul Mu’in,
Agama adalah suatu peraturan yang mendorong jiwa seseorang yang mempunyai akal, memegang peratutan Tuhan dengan kehendak sendiri, untuk mencapai kebaikan hidup di dunia dan kebahagiaan diakhirat.[5]
2.      Emile Durkheim
Mengartikan agama sebagai suatu kumpulan keyakinan warisan nenek moyang dan perasaan-perasaan pribadi; suatu peniruan terhadap modus-modus, ritual-ritual, aturan-aturan, konvensi-konvensi dan praktik-praktik yang secara sosial telah mantap selama ke generasi-generasi.[6]
3.      J.G. Frazer
Berpendapat bahwa agama adalah suatau ketundukan atau penyerahan diri kepada kekuatan yang lebih tinggi dari pada manusia yang dipercayai mengatur dan mengendalikan alam dan kehidupan umat manusia. Menurut dia agama itu terdiri dua element yakni, bersifat teorstis dan yang praktis. Contoh yang bersifat teoristis berupa kepercayaan kepada kekuatan yang lebih tinggi dari pada manusia sedangkan yang bersifat praktis ialah usaha manusia untuk tunduk kepada kekuatan-kekuatan tersebut serta usaha mengembirakannya.[7]






B.     Perkembangan Rasa Agama Usia Anak
Menurut penelitian Ernest Harms perkembangan agama anak-anak melalui beberapa fase (tingkatan). Dalam bukunya The Development Of Religion On Children, ia mengatakan bahwa perkembangan agama pada anak-anak  itu melalui tiga tingktan, yaitu;

1.      The Fairy Tale Stage (tingkat dongeng)
Tingkatan ini dimuali pada anak yang berusia 3-6 tahun. Pada tingkatan ini konsep mengenai Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. Pada tingkatan anak menghayati konsep ke-Tuhanan sesuai dengan tingkat perkembangan intelektualnya. Kehidupan masa kini masih banyak dipengaruhi kehidupan fantasi, hingga dapat menggapai agama pun anak masih mengggunakan konsep fantastik yang diliputi oleh dongeng-dongeng.

2.      The Realistic Stage (tingkat kenyataan)
Tingkat ini sejak anak masuk Sekolah Dasar (SD) hingga ke usia adolensen. Pada masa ini, ide ke-Tuhanan anak sudah mencerminkan konsep-konsep yang berdasarkan kepada kenyataan (realitas). Konsep ini timbul lembaga-lembaga keagamaan dan pengajaran agama dari orang dewasa lainnya. Pada masa ini ide keagamaan anak dapat didasarkan atas dorongan emosional, hingga mereka dapat melahirkan konsep Tuhan yang formalis. Berdasarkan hal itu, maka pada masa ini anak-anak tertarik dan senang pada lembaga yang mereka lihat dikelola oleh orang dewasa dalam ligkungan mereka. Segala bentuk tindakan (amal) keagamaan mereka ikuti dan pelajari dengan penuh minat.

3.      The Individual Stage (tingkat individu)
Pada tingkat ini anak mempunyai kepekaan emosi yang paling tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka, konsep keagamaan yang individualis ini terbagi menjadi tiga golongan, yaitu;
v  Konsep ke-Tuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi. Hal terserbut disebabkan oleh pengaruh luar.
v  Konsep ke-Tuhanan yang lebih murni yang dinyatakan dalam pandangan yang bersifat personal (peroranngan).
v  Konsep ke-Tuhanan yang bersifat humanistik. Agama telah menjadi etos humanis pada diri mereka dalam menghayati ajaran agama. Perubahan ini setiap tingkatan dipengaruhi oleh faktor interen, yaitu perkembangan usia dan faktor eksteren berupa pengaruh luar yang dialaminya.[8]
Religiositas anak adalah hasil dari suatu proses perkembangan yang berkesinambungan dari lahir sampai menjelang remaja. Dalam proses tersebut berbagai faktor, interen, eksteren ikut berperan. Empat diantarannya yang akan dipaparkan dalam makalah ini, yaitu perkembangan kognisi, peran hubungan orang tua dengan anak, peran Conscience, Guilt, Shame, serta Interaksi sosial.

a). Peran kognisi dalam perkembangan religiositas anak
            Konsep tentang nila-nilai keagamaan yang digunakan sebagai dasar pembentukan religiositas masuk ke dalam diri anak melalui kemampuan kognisi. Kognisi difahami sebagai kemampuan mengamati dan menyerap pengetahuan dan pengalaman dari luar diri individu. Perkembangan kognisi melewati beberapa fase yang masing-masing memiliki ciri yang berbeda. Pengetahuan dan pengalaman yang masuk pada diri individu akan hanya terserap sesuai dengan tingkat kemampuan kognisinya. Demikian juga pengetahuan dan pengalaman keagamanannya.
            Pada usia anak menurut Piaget perkembangan kognisi mengalami empat dari lima fase perkembangan berikiut ini yaitu:
1.      Period of sensorimotor adaptation, birth- 2 tahun
2.      Development of simbiolic and preconceptual thought, 2-4 tahun
3.      Period of intuitive thougth, 4-7 tahun
4.       Period of concreate operations, 7-12 tahun
5.      Period of formal operation, 12- thought adulescence.[9]
b). Peran hubungan orang tua dengan anak dalam perkembangan religiositas anak
            Hubungan orang tua dengan anak memiliki peran yang sangat besar dalam proses peralihan nilai agama yang akan menjadi dasar-dasar nilai dari religiositas anak.[10] Melalui hubungan dengan orang tua anak menyerap konsep-konsep keimanan (belief & faith), ibadah (ritual), maupun mu’amalah (ethic & moral). Ada dua masalah penting yang ikut berperan dalam perkembangan religiositas anak melalui proses hubungan orang tua dan anak, yaitu cara orang tua dalam berhubungan dengan anaknya, serta kualitas dari religiositas orang tua.
c). Paran Conscience, Guilt dan Shame dalam perkembangan religiositas anak
            Conscience, Guilt dan Shame adalah tiga keadaan kejiwaan yang berkembang secara berurutan. Conscience adalah kemampuan yang muncul dari jiwa yang terdalam untuk mengerti tentang be nar dan salah, baik dan buruk. Dalam istilah lain dapat disamakan dengan istilah inner light, superhero, atau internalized policeman, yang berperan untuk mengontrol perilaku dari dalam diri. Guilt adalah perasaan bersalah yang muncul bila dirinya tidak berperilaku sesuai dengan kata hatinya, rasa bersalah juga dapat disebut evaluasi diri secara negative yang muncul ketika seseorang memahami bahwa perilakunya tidak sesuai dengan standard nilai yang dia rasa harus ditaati. Beriringan dengan itu kemudian muncul  Shame, yaitu reaksi emosi yang tidak menyenangkan terhadap perkiraan penilaian dari orang lain pada dirinya.

d). Peran interaksi sosial dalam perkembangan religiositas anak
            Interaksi sosial adalah kesempatan anak untuk berinteraksi dengan lingkungan di luar rumah, yaitu dengan kelompok kawan sepermainan dan kawan sekolah. Interaksi sosial mempunyai peran penting dalam perkembangan religiositas anak melalui dua hal sebagai berikut: pertama, malalui interaksi sosial anak akan mengetahuai apakah perilakunya yang telah terbentuk berdasarkan standar nilai religiositas dalam keluarga dapat diterima atau ditolak oleh lingkungannya. Kedua, interaksi sosial akan menimbulkan motivasi bagi anak untuk hanya berperilaku sesuai dengan yang dapat diterima oleh lingkungannya.[11]
           

C.     Perkembangan Rasa Agama Usia Remaja
Dalam  pembagian tahap perkembangan manusia, maka masa remaja menduduki masa Progresif. Dalam pembagian yang agak terurai masa remaja mencakup masa juvenitilas (adolescantium), pubertas, dan  nubilitas.[12]
Sejalan dengan perkembangan jasmani dan rohaninya, maka agama pada para remaja turut dipengaruhi perkembangan itu. Maksudnya penghayatan para remaja terhadap ajaran agama dan tindak keagamaan yang tampak pada remaja banyak berkaitan dengan faktor perkembangan tersebut.
Perkembangan pada masa remaja ditandai oleh beberapa faktor perkembangan rohani dan jasmaninya. Perkembnagan itu antara lain menurut W. Starbuck adalah:
a).Pertumbuhan pikiran dan mental
Ide dan dasar keyakinan beragama yang diterima remaja dari masa kanak-kanak sudah tidak begitu menarik bagi mereka. Sifat kritis terhadap ajaran agama mulai timbul. Selain masalah agama mereka pun sudah tertarik pada masalah kebudayaan, sosial, ekonomi, dan norma-norma kehidupan lainnya.
b).Perkembangan perasaan
Berbagai perasaan telah berkembang pada masa remaja. Perasaan sosial, etis, dan estetis mendorong remaja untuk menghayati berkehidupan yang terbiasa dalam lingkungannya. Kehidupan religius akan cenderung mendorong dirinya lebih dekat ke arah hidup yang religius pula. Sebaliknya, bagi remaja yang kurang mendapat pendidikan dan siraman ajaran agama akan lebih mudah didominasi dorongan seksual. Masa remaja merupakan masa kematangan seksual. Didorong oleh perasaan ingin tahu dan perasan super, remaja lebih terperosok ke arah tindakan seksual yang negative.
c).Pertimbangan sosial
Corak keagamaan para remaja juga ditandai oleh adanya pertimbangan sosial. Dalam kehidupan keagamaan mareka timbul konflik antara pertimbangan moral dan material. Remaja sangat bingung menentukan pilihan itu. Karena kehidupan duniawi lebih dipengaruhi kepentingan akan materi, maka remaja lebih cenderung jiwanya untuk bersikap materialis.
d).Perkembangan moral
Perkembangan moral para remaja bertitik tolak dari rasa berdosa dan usaha untuk mencari proteks. Tipe moral yang juga terlihat pada remaja juga mencakupi:
1.   Self-directive, taat terhadap agama atau moral berdasarkan pertimbangan pribadi.
2.   Adaptive, mengikuti situasi lingkungan tanpa mengadakan kritik.
3.   Submissive, merasakan adanya keraguan terhadap ajaran moral dan agama.
4.   Unadjusted, belum meyakini akan kebenaran ajaran agama dan moral.
5.   Deviant, menolak dasar dan hukum keagamaan serta tatanan masyarakat.   
e).Sikap dan minat
Sikap dan minat remaja terhadap masalah keagamaan boleh dikatakan sangat kecil dan hal ini tergantung dari kebiasaaan masa kecil dan lingkungan agama yang mempengaruhi mereka (besar kecil minatnya).
Howard Bell dan Ross, berdasarkan penelitiannya taerhadap 13.000 remaja di Marlyand mengungkapkan sebagai berikut:
1.      Remaja yang taat beribadah ke gereja secara terartur 45%
2.      Remaja yang tidak pernah kegereja 35%
3.      Minat terhadap: ekonomi, keuangan, materi dan sukses pribadi 73%
4.      Minat terhadap masalah ideal, keagamaan dan sosial 21%.
f).Ibadah
1.) Pandangan remaja terhadap ajaran agama, ibadah, dan masalah doa yang dikumpulkan oleh Ross dan Oskar Kupky menunjukkan:
a.) 148 siswi dinyatakan bahwa 20 orang di antara mereka tidak pernah mempunyai pengalaman keagamaan, sedangkan sisanya 128 mempunyai pengalaman keagamaan, yang 60 diantaranya secara alami (tidak melalui ajaran resmi).
b.) 31% di antara yang punya pengalaman keagamaan melalui proses alami, mengungkapkan adanya perhatian mereka terhadap keajaiban yang menakjubkan di balik keindahan alam yang mereka nikmati.
2.) Selanjutnya mengenai pandangan mereka tentang ibadah di ungkapkan sebagai berikut:
a.) 42% tak pernah mengerjakan ibadah sama sekali.
b.) 33% mengatakan mereka sembahyang karena mereka yakin Tuhan mendengar dan akan mengabulkan doa mereka.
c.) 27% beranggapan bahwa sembahyang dapat menolong mereka meredakan kesusahan yang mereka derita.
d.) 18% mengatakan bahwa sembahyang menyebabkan mereka menjadi senang sesudah menunaikannya.
e.) 11% mengatakan bahwa sembahyang mengingatkan tanggung jawab dan tuntutan sebagai anggota masyarakat.
f.) 4% mengatakan bahwa sembahyang merupakan kebiasaan yang mengandung arti yang penting.
Jadi, hanya 17% mengatakan bahwa sembahayang berrmanfaat untuk berkomunikasi dengan Tuhan, sedangkan 26% di antaranya menganggap bahwa sembahyang hanyalah merupakan media untuk bermeditasi.[13]
    
 
  















BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Religiositas pada tahap anak dan remaja sangat berbeda, proses perkembnagan religiositas pada tahap anak meliputi beberapa faktor yaitu The Fairy Tale Stage (tingkat dongeng), The Realistikc Stage (tingkat kenyataan) dan The Individual Stage (tngkat individu). Sedangkan pada tahap remaja juga diliputi beberapa faktor, yang mana faktor ditahap anak berbeda pada tahap remaja, faktor-faktor yang meliputi perkembangan religiositas pada tahap remaja yaitu; Pertumbuhan pikiran dan mental, Perkembangan perasaan Pertimbangan sosial, Perkembangan moral, Sikap dan minat serta Ibadah.
Dalam keseluruhan perkembangan religiositas, perkembangan pada usia anak mempunyai peran yang sangat penting karena dalam perkembangan tersebut keseluruhan dasar-dasar religiositas mulai terbentuk. Akan tetapi perhatian dan kesangguan pihak orang dewasa dalam memahami dan memecahkan permasalahan yang timbul berkaitan dengan perkembangan religiositas usia anak dirasa kurang dibandingkan dengan perhatian dan kesanggupannya terhadap perkembangan religiositas usia remaja dan dewasa.

B. Saran                                                                                                                                               Dalam makalah ini tentunya akan ada kekurangan-kekurangan argumentasi atau mugkin terdapat kekeliruan dalam penulisan atau susunan kata-kata, oleh karena itu kritik dan saran kami butuhkan guna perbaikan berikutnya. Untuk memperoleh pengetahuan yang lebih mendalam, kami sarankan juga untuk membaca referensi-referensi lain yang terkait Implikasi Pendidikan Agama Dalam Perkembangan Rasa Agama Pada Usia Anak Dan Remaja.





DAFTAR PUSTAKA

Abdul Manaf, Mudjahit, Sejarah Agama-Agama, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, Cet 2, 1996.
Arifin, M. Menguat Misteri Ajaran Agama-Agama Besar, Jakarta: PT Golden Terayon Press, Cet 7, 1997.
Clark, W.H, The Psychology Of  Religion. New York : The MacMillan Company, 1958.
Eson, W.H, The Psychology Of  Religion, New York: Rinehart and Winston, Inc, 1972.
Hurlock, E.B, Child Development, New York: McGraw-Hiil Book Company, Inc, 1978.
Jalaluddin, Psikologi Agama,  Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007.
Rosyadi, Khoiron, Pendidikan Profetik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.
Yusuf  LN, Syamsu, Psikologi Belajar Agama (Perspektif Pendidikan Agama Islam), Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004.



[1]Jalaluddin, Psikologi Agama,  (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), Hal. 8

[2]Clark, W.H, The Psychology Of  Religion. (New York : The MacMillan Company, 1958), Hal. 85

[3]Khoirun, Rosyadi, Pendidikan Profetik, Yogyakarta: Pusataka Pelajar, 2004. Hal. 137

[4]Khoirun, Rosyadi, Pendidikan Profetik, (Yogyakarta: Pusataka Pelajar, 2004), Hal:136     

[5]Mudjahit Abdul Manaf, Sejarah Agama-Agama, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, Cet II, 1996), Hal. 4

[6]Syamsu Yusuf, Psikologi Belajar Agama (Perspektif Agama Islam), (Bandung: Pustaka Bani Quraisy), Cet 1, 2003. Hal.10

[7]M. Arifin, Menguat Misteri Ajaran Agama-Agama Besar, (Jakarta: PT Golden Terayon Press, 1997),Cet VII. Hal.5

[8]Jalaluddin, Psikologi Agama…Hal 67

[9]Eson, W.H, The Psychology Of  Religion, (New York: Rinehart and Winston, Inc, 1972),Hal 99

[10]Clark, W.H, The Psychology Of  Religion…Hal 87
[11] Hurlock, E.B, Child Development, (New York: McGraw-Hiil Book Company, Inc, 1978), Hal 390

[12]Jalaluddin, Psikologi Agama… Hal. 74

[13]Jalaluddin, Psikologi Agama… Hal. 77